Filosofi Berasuransi Syariah

Filosofi berasuransi syariah sangat kental bernuansa ibadah,terutama dalam praktik muamalah sekaligus juga bernuansa sosial dengan mengutakan akidah dan akhlak Islami. Islam meletakkan dasar-dasar persaudaraan ini lebih tinggi seperti juga yang tersirat maupun yang tersurat di dalam Al-Quran dan Al- Hadist.

Jadi Berasuransi Syariah adalah semata-mata berniat menolong sesama, atas dasar persaudaraan Muslim dan sekaligus membangun tanggung jawab bersama, saling bekerjasama, dan saling melindungi dari berbagai kesusahan.

Bagaimana bila niat itu atas dasar pada perencanaan atau antisipasi terhadap musibah..?

Allah berfirman “ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhdap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS an-Nisa’ [4]: 9).  Ayat ini menyatakan perlunya seorang Muslim membuat perencanaan atas keluarga mereka.  Hal ini sejalan dengan yang dicontohkan oleh Nabi Yusuf as dalam membuat sistem proteksi untuk menghadapi kemungkinan buruk pada masa depan.

Al-Quran Surat Yusuf ayat 43 – 49 :

“ Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya ) : “Sesunggunya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.” Hai orang-orang yang terkemuka; “ Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamau dapat mena’birkan mimpi.”

Mereka menjawab:”(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu”. Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya;Aku akan beritakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena’birkn mimpi itu, maka utuslah aku kepadanya)”.

(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf,dia berseru): “Yusuf, hai orang yang Amat dipercaya,terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakanoleh tujuh sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) yang lainya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui.”

Yusuf berkata: “ Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya)sebagaimana biasa; dan apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.

Kemudian , sesudah itu aka akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.  Kemudian, setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras anggur.”

Ayat ini digunakan sebagai salah satu landasan tentang kebolehan dalam pelaksanaan auransi syariah.  Hal yang tidak dianjurkan adalah niat berasuransi karena semata-mata untuk mendapatkan keuntungan komersial.